Tuesday, February 7, 2012

Menyelamatkan Orangutan, menyelamatkan hutan tadah hujan

 Oleh: Ciptanti Putri

Jakarta (23/12)-Baru-baru ini bangsa Indonesia bahkan dunia digemparkan oleh berita pembantaian ratusan individu orangutan spesies Pongo pygmaeus di Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Rata-rata per hari ada 2 orangutan mati dibunuh untuk dimakan dagingnya, atau dibinasakan karena dianggap hama. Padahal primata yang 97% DNA-nya menyerupai manusia ini merupakan hewan yang tidak menyerang dan dapat hidup berdampingan dengan manusia. Apakah Indonesia akan kehilangan satu lagi kekayaan hayatinya setelah Harimau Jawa dan Harimau Bali?

Permasalahan ini secara makro bermuara pada dikotomi antara pengelolaan investasi di daerah Kalimantan dengan upaya konservasi. Kepentingan pemerintah daerah untuk mengembangkan wilayahnya dengan menerima investor-investor baik dari dalam negeri maupun dari luar untuk mengolah wilayah hutan menjadi perkebunan kelapa sawit bertabrakan dengan program konservasi hutan. Harusnya dikotomi ini dihapuskan, sehingga proses pembangunan memiliki nilai investasi serta konservasi yang saling mendukung.

Demikian kesimpulan yang dinyatakan oleh Chairul Saleh, Conservation Science for Flagship Species Coordinator  WWF Indonesia, di akhir sesi diskusi pada acara Presentasi dan Diskusi ‘Let’s #SaveOrangutans’ Selasa, 20 Desember 2011 lalu di Pusat Kebudayaan Amerika #america. Acara yang diselenggarakan atas kerjasama WWF-Indonesia, Borneo Orangutans Survival (BOS) Foundation, dan @america itu juga menghadirkan sejumlah pembicara lainnya yakni Arian 13 dari gerakan #SaveOrangutans, Yolinda dari program Liputan Investigasi Trans7, dan Rini dari BOS Foundation.

Acara dibuka dengan pemutaran video tentang keseharian satu individu orangutan betina yang sedang mengandung, di belantara Kalimantan. Diperlihatkan kebiasaan-kebiasaan orangutan, interaksinya dengan manusia, serta keunikan-keunikannya.

Setelah video singkat, Arian 13 dari gerakan #SaveOrangutans mempresentasikan kondisi habitat orangutan di Kalimantan yang semakin terpuruk. Karena pesatnya penebangan hutan untuk perkebunan sawit, sumber makanan orangutan pun menipis. Akibatnya, mereka mulai merambah perkebunan sawit. Ia lalu menambahkan bahwa perorangan dan pihak perusahaan pemilik perkebunan sawit, pengolah hasil sawit, serta pabrik-pabrik pengguna bahan sawit adalah pihak yang bertanggung jawab atas kejadian ini.

“Perusahaan-perusahaan itu lalu melakukan Greenwashing, yaitu upaya menyamarkan tindakan pengrusakan hutan melalui kampanye hijau, seperti jargon mengubah hutan liar menjadi hutan industri. Greenwashing ini membuat masyarakat percaya bahwa mereka perusahaan yang turut melesarikan hutan.” tutupnya.

Sementara Yolinda dari Trans 7 berbagi pengalamannya saat melakukan liputan investigasi selama 7 bulan tentang lingkungan hidup di Kalimantan. Hasil investigasinya dipresentasikan dalam bentuk potongan rekaman siaran berita “Reportasi Borneo Trans7”. Selanjutnya ia menceritakan kondisi lapangan di sana yang sangat memprihatinkan. “Perusahaan-perusahaan kelapa sawit begitu cepat menggempur hutan tadah hujan hingga keberadaannya habis,” paparnya.

Ahli spesies dari WWF-Indonesia, Chairul Saleh dalam presentasinya menjelaskan karakter orangutan, jenis-jenis yang hidup di Indonesia sebagai habitat terbesarnya, serta sejumlah fakta tentang orangutan. “Orangutan memiliki fungsi ekologi sebagai pemancar biji-bijian untuk kelangsungan biodiversity di hutan tropis,” jelasnya. Eksistensi orangutan terancam akibat fragmentasi habitatnya sebagai dampak penebangan kayu di hutan dan konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, perburuan dan perdagangan orangutan, serta perubahan iklim.

“WWF Indonesia meneliti dan melindungi habitat orangutan, bekerja sama dengan masyarakat,” lanjutnya. Dalam usahanya tersebut ditemukan bahwa hutan yang dihijaukan kembali dan kemudian dilindungi kelestariannya ternyata mampu memberi pangan buah yang memadai bagi populasi orangutan. Selanjutnya WWF menginformasikan dan mengajak masyarakat memahami potensi orangutan sebagai obyek ekowisata. “Dengan demikian masyarakat juga akan melestarikan eksistensi orangutan,” tuturnya.

Sementara pembicara dari BOS, Rini, mempresentasikan cara-cara yang bisa dilakukan masyarakat luas untuk menyelamatkan orangutan. “Ikut kegiatan LSM dan mendaftar menjadi volunteer itu baik. Namun, yang paling baik adalah dengan menganut gaya hidup hijau,” jelasnya. Gaya hidup hijau yang dimaksud Rini, yakni mengurangi penggunaan kertas dan plastik, tidak menggunakan produk-produk berbahan sawit, hemat energi tak terbarukan, air dan listrik. “Pada akhirnya, yang terpenting dari segala usaha kita bukan menyelamatkan orangutan. Lebih besar lagi, menyelamatkan hutan tadah hujan kita,” pungkasnya.

sumber: http://www.wwf.or.id

0 comments:

Post a Comment

Download Game & Aplikasi - YangYang ClanSpeciaL

Hosting gratis untuk buat website.

Web hosting